"Tumben malem gini baru pulang, Lon.. bukannya ganti siaran siang kan?"
"Iya, Mam... abis nyiar tadi ke kontrakannya Rano, terus ngobrol sana sini, lupa waktu deh.. hehe... Sowwry, Mam..."
"ya.. tapi kan bisa kabarin Mama, jadi kan tahu, Alona..."
"Siap bos!" kataku sambil bergaya hormat layaknya pada sang merah putih
"Jadi... gimana, Lon? sudah dipikirkan itu tawaran Pakdemu, beasiswa S2 itu lho?"
Goshhhh... baru juga pulang, baru juga ambrukin diri ke sofa empuk, udah nanyain kayak gitu lagi.
"Ambillah, Lon... kesempatan mahal lho itu!" see? belum juga aku jawab
"Mmmmh... belum dipikirin, Mam... lagi sibuk banget nyiapin program baru nih. Hoahhhhm, Mam ngantuk... ke kamar dulu ya, Mam" dan kuberi kecupan kecil di pipi Mamam.
"Luangkan waktu untuk mikirin beasiswa itu lho, Lona..."
dan aku hanya berjalan sambil lalu.
Terjun bebas ke kasur, tengkurap, dan...
"ARRRGGGGHHHH!!" sambil kupukul-pukul itu bantal empuk, resah menghadap kanan dan kiri
S2 S2 S2 beasiswa beasiswa beasiswa, harus ya harus???!
Gelisah, kesal, sesekali memukul-mukul bantal atau guling kembali dan pada akhirnya aku lelah, sama lelahnya memikirkan kesempatan mahal itu. Kutarik selimut menutupi seluruh badanku dan memilih untuk tidur saja. Tanpa cuci muka. Tanpa gosok gigi.
0 komentar:
Posting Komentar