BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Kamis, 28 April 2011

Rumah

"Tumben malem gini baru pulang, Lon.. bukannya ganti siaran siang kan?"

"Iya, Mam... abis nyiar tadi ke kontrakannya Rano, terus ngobrol sana sini, lupa waktu deh.. hehe... Sowwry, Mam..."

"ya.. tapi kan bisa kabarin Mama, jadi kan tahu, Alona..."

"Siap bos!" kataku sambil bergaya hormat layaknya pada sang merah putih

"Jadi... gimana, Lon? sudah dipikirkan itu tawaran Pakdemu, beasiswa S2 itu lho?"

Goshhhh... baru juga pulang, baru juga ambrukin diri ke sofa empuk, udah nanyain kayak gitu lagi.

"Ambillah, Lon... kesempatan mahal lho itu!" see? belum juga aku jawab
"Mmmmh... belum dipikirin, Mam... lagi sibuk banget nyiapin program baru nih. Hoahhhhm, Mam ngantuk... ke kamar dulu ya, Mam" dan kuberi kecupan kecil di pipi Mamam.

"Luangkan waktu untuk mikirin beasiswa itu lho, Lona..."

dan aku hanya berjalan sambil lalu.

Terjun bebas ke kasur, tengkurap, dan...
"ARRRGGGGHHHH!!" sambil kupukul-pukul itu bantal empuk, resah menghadap kanan dan kiri
S2 S2 S2 beasiswa beasiswa beasiswa, harus ya harus???!

Gelisah, kesal, sesekali memukul-mukul bantal atau guling kembali dan pada akhirnya aku lelah, sama lelahnya memikirkan kesempatan mahal itu. Kutarik selimut menutupi seluruh badanku dan memilih untuk tidur saja. Tanpa cuci muka. Tanpa gosok gigi.

Sabtu, 16 April 2011

Jordhy

Gelap.
Aku merasakan ada sepasang tangan yang sedang menutup mataku. Wangi ini...betapa aku merindukannya. Ada suara cekikikan yang lembut.... Ya, itu suaranya dan aku merindukannya juga!
“Sayang...” selanjutnya aku hanya bisa tersenyum.
“Aaah, kok kamu bisa tebak aku sih?” Ia melepaskan tangannya.
Aku berbalik. Ia masih cantik, bahkan semakin cantik. Apalagi saat ini mulutnya melengkung ke bawah karena merasa tidak berhasil mengerjaiku. Senyumku semakin melebar. Aku memeluknya dengan erat.
“Ya iyalah, aku tahu. Aku kangen banget sama kamu...”Aku mempererat pelukanku.
“Aku juga,” ia membalas pelukanku.
“Kenapa sih kamu ga ijinin aku untuk jemput kamu? Kenapa kita harus janjian di sini?”
Aku masih memeluknya meskipun orang-orang di restoran ini mulai memperhatikan kami. Aku tidak peduli. Rinduku begitu memuncak.
“Hehehe, kan aku pengen ngasih surprise sama kamu. Nih, aku beliin kemeja batik buat kamu. Kamu pasti bakalan ganteng banget kalo pakai ini, Sayang! Aku juga beli dress yang warna dan coraknya mirip, jadi nanti kita pakai bareng,” dia tersenyum padaku. Cantikku.
“Ih, gombal!” Wajahnya bersemu merah. Aku tak menyadari kata itu terucap.
“Kamu memang cantikku,” aku memegang dagunya...dan kembali memeluknya, memuaskan rasa kangenku.
**