“Seminggu
ini kok kamu susah dihubungi sih?!”
“Ya
ampun, Sayang! Aku baru dateng kamu langsung ngambek-ngambek kayak gini....”
Tangannya
memeluk pinggangku.
“...Maaf.
Tapi aku beneran kesel, kamu kayak bukan pacar aku selama seminggu ke
belakang,” nadaku melunak. Dia diam tetap memelukku.
“Ditelepon
jarang angkat, SMS lama bales, dijemput dan pulang bareng juga nolak. Setiap
aku tanya, kamu selalu bilang sibuk, sampai aku capek untuk hubungi kamu lagi.”
“Aku
kangen kamu...” Hanya kalimat itu yang diucapkannya. Kini hatiku yang melunak
karena itupun sebenarnya inti setiap kemarahanku. Aku pun membalas pelukannya.
**
“Dia ga bales SMS gue lagi!!”
“.....”
“Dia kenapa sih?! Gue telepon juga selalu
bilang sibuk! Dia maunya apa sih?!???”
“.....”
“Gue kan pacarnya, ga bisa apa dia ketemu gue
sebentar aja! Bokap-nyokap aja ga sesibuk dia! Lama-lama gue capek, liat aja,
gue ga akan hubungi dia lagi, biar tahu rasa dia! Kali ini gue sungguh-sungguh,
ga akan lembek lagi!”
“.....”
Rian tak bergeming, membuatku iri melihatnya
tidur nyenyak malam ini. Haaah, sudah berapa malam aku tidak tidur nyenyak?
Kulirik lagi Rian di tempat tidurnya, rasa iba sedikit membuatku merasa
bersalah. Dia satu-satunya tempat pelampiasanku mengeluh setiap malam,
memintanya menemaniku sepanjang malam menunggu balasan SMS sang kekasih yang
entah sekarang hidup di dunia mana.
“Cih!” Kali ini kubiarkan Rian tidur nyenyak di
rumahnya.
**