Gelap.
Aku merasakan ada sepasang tangan yang sedang menutup mataku. Wangi ini...betapa aku merindukannya. Ada suara cekikikan yang lembut.... Ya, itu suaranya dan aku merindukannya juga!
“Sayang...” selanjutnya aku hanya bisa tersenyum.
“Aaah, kok kamu bisa tebak aku sih?” Ia melepaskan tangannya.
Aku berbalik. Ia masih cantik, bahkan semakin cantik. Apalagi saat ini mulutnya melengkung ke bawah karena merasa tidak berhasil mengerjaiku. Senyumku semakin melebar. Aku memeluknya dengan erat.
“Ya iyalah, aku tahu. Aku kangen banget sama kamu...”Aku mempererat pelukanku.
“Aku juga,” ia membalas pelukanku.
“Kenapa sih kamu ga ijinin aku untuk jemput kamu? Kenapa kita harus janjian di sini?”
Aku masih memeluknya meskipun orang-orang di restoran ini mulai memperhatikan kami. Aku tidak peduli. Rinduku begitu memuncak.
“Hehehe, kan aku pengen ngasih surprise sama kamu. Nih, aku beliin kemeja batik buat kamu. Kamu pasti bakalan ganteng banget kalo pakai ini, Sayang! Aku juga beli dress yang warna dan coraknya mirip, jadi nanti kita pakai bareng,” dia tersenyum padaku. Cantikku.
“Ih, gombal!” Wajahnya bersemu merah. Aku tak menyadari kata itu terucap.
“Kamu memang cantikku,” aku memegang dagunya...dan kembali memeluknya, memuaskan rasa kangenku.
**
0 komentar:
Posting Komentar