BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Senin, 26 Maret 2012

Jordhy


Jor, gue perlu ngomong penting sama lo. Gue tunggu di rumah gue sekarang.

Aku sedang dalam perjalanan menuju rumah saat Rian meng-SMS-ku. Entah kenapa, tiba-tiba hatiku berdebar kencang tak karuan saat ia membalas SMS pertanyaanku tentang apa yang ingin ia bicarakan. Balasannya hanya dua kata, tapi cukup membuatku langsung ngebut ke rumahnya tanpa berpikir panjang.

Tentang Ana.

**

“Pokoknya lo ga boleh terpancing dulu, ya.”
“Cepetan deh, ga usah basa-basi!”
Rian diam sambil menatapku. Aku merasa tahu, apa yang akan ia katakan.
“Lo jangan pikir yang macam-macam dulu, gue juga belum tahu orang itu siapa...”
Aku terus menunggu Rian meneruskan kalimatnya.
“Barusan, gue liat Ana masuk mobil bareng seorang cowok. Mereka kayaknya baru dari Cafe Silver.” Rian langsung mencegatku dengan tangannya.
“Lepasin!!” teriakku.
“Lo mau ke mana??”
“Ya gue mau ke rumahnya lah, membuktikan lo bener atau engga!”
“Jangan terburu-buru Jor! Kita harus—Jor! Jordhy!!!”
**

“Ngapain lo ngikutin gue?” tanyaku.
“Coba liat muka lo sendiri di kaca! Udah kayak monster mau nerkam mangsa. Gue ngeri lah, takut lo berbuat rusuh di sini,” jawab Rian.
Aku memandangi pintu rumah Ana. Adakah ia di dalam sana? Aku berharap, Rian hanya salah lihat. Tanpa kusadari Rian sudah memencet bel.
“Hai, Ma...” sapaku begitu melihat mama Ana membukakan pintu.
“Loh? Kamu ga jadi pergi bareng Ana, Jor? Terus sekarang Ana di mana?” Aku tercengang mendengar pertanyaan Mama.
“Oh i-iya Tan, kami kirain Ana minta dijemput di rumah. Kami telepon Ana deh, hehe. Maaf ya, Tan...” Rian segera menyeretku ke motor.
Samar-samar kudengar Mama bertanya, “Oh jadinya bertiga?”
**

“Nih, makan!” Rian menyerahkan nasi bungkus padaku.
“Ga nafsu!” jawabku.
“Heeh! Kita udah 4 jam nunggu ga jelas di sini, masa lo ga lapar?”
“Mana nafsu gue kalau mikirin Ana sekarang di mana, sama siapa, lagi ngapain sampe semalem ini belum pulang juga!!”
“Gue ngerti, man... Tapi lo makan atau ngga, mikirin dia atau ngga, ga akan ngaruh juga dengan apa yang dia lakukan sekarang.”
Aku pun melirik nasi bungkus itu dan menerimanya. Benar juga sih apa yang dia ucapkan, lagipula sejujurnya aku memang lapar.
Baru saja aku membuka nasi bungkus itu, Rian langsung menarik jaketku. Hampir aku memarahinya karena nasi bungkusku jatuh ke tanah, namun kemudian selera makanku benar-benar hilang begitu melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah Ana.
“Itu tuh mobil tadi sore,” bisik Rian.
Begitu melihat seorang pria keluar dan membukakan pintu—yang ternyata untuk Ana—aku langsung menghampiri mereka tanpa menghiraukan panggilan Rian di belakangku.

“Dia siapa?” tanyaku dingin mengejutkan Ana. Ana terlihat pucat dan tak menjawab, membuatku gemas.
“Jawab, DIA SIAPA??” bentakku sambil menarik tangannya.
Pria yang bersama Ana segera melepaskan genggaman tanganku, “Lo jangan kasar sama cewek gue!”
Refleks mendengar kalimatnya, aku pun memberikan bogemku pada pria itu sampai ia terjatuh. Aku terus memukulinya, sampai Rian menahanku.
“Lo ga usah ikut campur deh!!” teriakku pada Rian.
Aku melepaskan diri dari Rian, ingin melanjutkan pukulanku, namun aku melihat Ana sudah di depan pria itu, melindunginya sambil menangis. Aku terhenyak.
Sejak kapan ia menangis? Aku tidak sadar. Aku bahkan tidak tahu lagi harus bagaimana selain pergi dan meng-gas motorku kencang-kencang.
**

Bagiku, kamu adalah tawa
Lalu, hari ini kamu siapa?
Siapakah kamu sehingga menangis untuk dia?

Aku tidak mengenalmu....



0 komentar: