Jor, gue perlu
ngomong penting sama lo. Gue tunggu di rumah gue sekarang.
Aku sedang dalam
perjalanan menuju rumah saat Rian meng-SMS-ku. Entah kenapa, tiba-tiba hatiku
berdebar kencang tak karuan saat ia membalas SMS pertanyaanku tentang apa yang
ingin ia bicarakan. Balasannya hanya dua kata, tapi cukup membuatku langsung
ngebut ke rumahnya tanpa berpikir panjang.
Tentang Ana.
**
“Pokoknya lo ga
boleh terpancing dulu, ya.”
“Cepetan deh, ga
usah basa-basi!”
Rian diam sambil
menatapku. Aku merasa tahu, apa yang akan ia katakan.
“Lo jangan pikir
yang macam-macam dulu, gue juga belum tahu orang itu siapa...”
Aku terus
menunggu Rian meneruskan kalimatnya.
“Barusan, gue
liat Ana masuk mobil bareng seorang cowok. Mereka kayaknya baru dari Cafe
Silver.” Rian langsung mencegatku dengan tangannya.
“Lepasin!!”
teriakku.
“Lo mau ke
mana??”
“Ya gue mau ke
rumahnya lah, membuktikan lo bener atau engga!”
“Jangan
terburu-buru Jor! Kita harus—Jor! Jordhy!!!”
**
“Ngapain lo
ngikutin gue?” tanyaku.
“Coba liat muka
lo sendiri di kaca! Udah kayak monster mau nerkam mangsa. Gue ngeri lah, takut
lo berbuat rusuh di sini,” jawab Rian.
Aku memandangi
pintu rumah Ana. Adakah ia di dalam sana? Aku berharap, Rian hanya salah lihat.
Tanpa kusadari Rian sudah memencet bel.
“Hai, Ma...”
sapaku begitu melihat mama Ana membukakan pintu.
“Loh? Kamu ga
jadi pergi bareng Ana, Jor? Terus sekarang Ana di mana?” Aku tercengang
mendengar pertanyaan Mama.
“Oh i-iya Tan,
kami kirain Ana minta dijemput di rumah. Kami telepon Ana deh, hehe. Maaf ya,
Tan...” Rian segera menyeretku ke motor.
Samar-samar
kudengar Mama bertanya, “Oh jadinya bertiga?”
**
“Nih, makan!”
Rian menyerahkan nasi bungkus padaku.
“Ga nafsu!”
jawabku.
“Heeh! Kita udah
4 jam nunggu ga jelas di sini, masa lo ga lapar?”
“Mana nafsu gue
kalau mikirin Ana sekarang di mana, sama siapa, lagi ngapain sampe semalem ini
belum pulang juga!!”
“Gue ngerti, man... Tapi lo makan atau ngga, mikirin
dia atau ngga, ga akan ngaruh juga dengan apa yang dia lakukan sekarang.”
Aku pun melirik
nasi bungkus itu dan menerimanya. Benar juga sih apa yang dia ucapkan, lagipula
sejujurnya aku memang lapar.
Baru saja aku
membuka nasi bungkus itu, Rian langsung menarik jaketku. Hampir aku memarahinya
karena nasi bungkusku jatuh ke tanah, namun kemudian selera makanku benar-benar
hilang begitu melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah Ana.
“Itu tuh mobil
tadi sore,” bisik Rian.
Begitu melihat
seorang pria keluar dan membukakan pintu—yang ternyata untuk Ana—aku
langsung menghampiri mereka tanpa menghiraukan panggilan Rian di belakangku.
“Dia siapa?”
tanyaku dingin mengejutkan Ana. Ana terlihat pucat dan tak menjawab, membuatku
gemas.
“Jawab, DIA
SIAPA??” bentakku sambil menarik tangannya.
Pria yang
bersama Ana segera melepaskan genggaman tanganku, “Lo jangan kasar sama cewek
gue!”
Refleks
mendengar kalimatnya, aku pun memberikan bogemku pada pria itu sampai ia
terjatuh. Aku terus memukulinya, sampai Rian menahanku.
“Lo ga usah ikut
campur deh!!” teriakku pada Rian.
Aku melepaskan
diri dari Rian, ingin melanjutkan pukulanku, namun aku melihat Ana sudah di
depan pria itu, melindunginya sambil menangis. Aku terhenyak.
Sejak kapan ia
menangis? Aku tidak sadar. Aku bahkan tidak tahu lagi harus bagaimana selain
pergi dan meng-gas motorku kencang-kencang.
**
Bagiku, kamu adalah tawa
Lalu, hari ini kamu siapa?
Siapakah kamu sehingga menangis untuk dia?
Aku tidak mengenalmu....
0 komentar:
Posting Komentar